Senin, 05 Desember 2011

Realisasi Anggaran PNPM Pedesaan Sulsel 72 Persen

Realisasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) Pedesaan di Provinsi Sulawesi Selatan mencapai 72 persen.
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintahan Desa dan Kelurahan Provinsi Sulsel, Andi Mangunsidi, di Makassar, Rabu, menjelaskan, sepanjang 2011 total alokasi anggaran PNPM Pedesaan di Sulsel lebih dari Rp280 miliar.
Anggaran tersebut digunakan di 20 kabupaten, 236 kecamatan dan hingga Oktober, 2011 telah terealisasi sebesar 72 persen atau lebih dari Rp202 miliar.
Program ini hanya dilaksanakan di 20 kabupaten dari 24 kabupaten dan kota se-Sulsel karena empat lainnya berstatus kota sehingga masuk dalam PNPM Mandiri Perkotaan dan untuk perkotaan masuk dalam penanganan dinas tata ruang dan permukiman.
Ia menilai, PNPM benar-benar menyentuh kepentingan masyarakat karena kegiatannya diserahkan dan disesuaikan dengan kebutuhan ke masyarakat berdasarkan hasil musyawarah.
Masyarakat bawah yang menjadi sasaran program ini, katanya, juga sangat mengharapkan kelanjutan dari program ini.
Pada 2012, PNPM pedesaan yang secara nasional akan berjalan hingga 2014, tetap dilaksanakan di 20 kabupaten. Ia meyakini, alokasi anggaran program akan mengalami peningkatan seperti pengalaman tahun-tahun sebelumnya.
Namun, ia tidak merinci seberapa besar peningkatan alokasi anggaran tersebut. Sementara anggaran PNPM Pedesaan pada 2012 baru bisa diketahui pada Desember 2011

Minggu, 27 November 2011

PERTEMUAN PERSIAPAN GELAR KAPASITAS PELAKU PNPM-MPd

Kali ini Pokja RBM Kab. Bantaeng kembali mengadakan even bergengsi dalam rangka menyambut Harlah Kabupaten Bantaeng Ke-757. Even ini bertajuk "GELAR KAPASITAS PELAKU PNPM-MPd" se-Kabupaten Bantaeng.

Sejumlah persiapan telah dilakukan, diantaranya pembentukan panitia pelaksana dan rumusan penilaian oleh Faskab PNPM-MPd serta FK/FT se-Kab. Bantaeng. Faskab PNPM-MPd Ruslan Mendogu mengatakan kegiatan penilaian Gelar Kapasitas pelaku PNPM-MPd akan dilaksanakan  tanggal 26 s/d 3 November 2011, dengan kategori sebagai berikut:



  1. Camat Terbaik 1,2 dan 3
  2. BKAD (Badan Kerjasama Antar Desa) terbaik 1,2 dan 3
  3. BP-UPK (Badan Pengawas UPK) terbaik 1,2 dan 3
  4. UPK (Unit Pengelola Kegiatan) terbaik 1,2 dan 3
  5. Kades dan Lurah terbaik 1,2 dan 3
  6. KPMD (Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa) terbaik 1,2 dan 3
  7. Tim Pengelola Kegiatan (TPK) 1,2 dan 3
Menurut Kepala BPM & Pemdes Kab. Bantaeng Ir.Meyriyani,M.Si, even ini dilaksanakan  dalam rangka mensosialisasikan PNPM-MPd yang telah banyak memberikan sumbangsih bagi pembangunan di Kab.Bantaeng sekaligus memeriahkan Harlah Kab. Bantaeng. Menurut Ibu Mery even ini telah disampaikan kepada Bupati Bantaeng dan beliau bersedia untuk memberikan secara langsung penghargaan pada peringatan Harlah Kab,Bantaeng pada tanggal 7 Desember 2011 mendatang. Ibu Mery juga berpesan agar para Panitia pelaksana serta unsur-unsur terkait yang terlibat (Faskab, FK/FT) lebih konsen dalam kegiatan ini agar berjalan lancar dan meminta penilaiannya lebih subjektif.

PJOKab PNPM-MPd Harmoni,S,Sos.M,Si mengatakan FK/FT diberi wewenang mengkoordinir serta memberi penilaian kepada pelaku PNPM ditingkat desa/kelurahan. Menurut Ibu Moni, tim penilai kabupaten terdiri dari Satker dan Faskab dengan metode verifikasi lapangan pada tanggal 2-3 November 2011. Ibu Harmoni menambahkan hasil atau juara  dalam even Gelar Kapasitas Pelaku PNPM-MPd akan diikutsertakan dalam penghargaan SIKOMPAK AWARD tingkat nasional yang akan datang.

SUSUNAN PANITIA PELAKSANA GELAR KAPASITAS PELAKU PNPM-MPd
POKJA RUANG BELAJAR MASYARAKAT KAB.BANTAENG
Ketua  :  Anas Kaharuddin,S.Sos
Sekretaris :  Haerul Ma'ruf, SE
Bendahara  : Ismail. HD, S.Pd
S. Konsumsi  :  Hartuti
S. Acara  : M. Rusli
S. Publikasi  : M.Amir
S. Perlengkapan : Abd.Azis

Kamis, 24 November 2011

PELATIHAN DASAR RBM

Ir. Meyriyani,M.Si membuka Pelatihan Dasar RBM
Pokja RBM kembali mengadakan acara/kegiatan, yaitu Pelatihan Dasar RBM pada tanggal 23 s/d 24 November 2011 di Gedung Pertiwi Kab. Bantaeng. Pelatihan yang bertemakan "Meningkatkan Kapasitas Pemantauan Berbasis Masyarakat Dalam Mencapai Hasil Yang Berkualitas" ini dibuka secara resmi oleh Ibu Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPM & Pemdes) Kab. Bantaeng, Ir.Meyriyani,M.Si yang didamping oleh PJOKab PNPM-MPd Harmoni, S.Sos, M.Si. Turut hadir pula dalam kegiatan ini para FK/FT se-Kab. Bantaeng.


Kerja Kelompok
Dalam sambutannya Ibu Meyriyani yang akrab disapa Karaeng Mery dalam sambutannya mengatakan, peserta sebagai ujung tombak PNPM-MPd di desa harus meningkatkan kapasitasnya dalam mengawal semua kegiatan PNPM-MPd di wilayah masing-masing, mulai dari proses perencanaan sampai pada pengerjaan hingga keberlanjutannya. Ibu Mery juga menambahkan pada awal-awal PNPM Mandiri ketika masih bernama PPK, partisipasi masyarakat sangat tinggi tetapi akhir-akhir ini tingkat partisipasi itu menurun. Disinilah peran vital para pelaku PNPM-MPd ditingkat desa mengembalikan hasrat masyarakat dalam membangun desa/kelurahannya. Ibu Mery berpesan kepada peserta Pelatihan Dasar RBM agar serius mengikuti semua rangkaian pelatihan dan mengaplikasikan kelak di desa masing-masing.


Narasumber/Pemateri dalam Pelatihan Dasar RBM adalah Fasilitator Kecamatan yang ditunjuk oleh Faskab PNPM-MPd. Pelatihan ini diikuti oleh 50 orang peserta yang terdiri dari, FK/FT, TPM, Tim Monitoring, BP-UPK, BKAD, Paralegal, KPMD dan Pendamping Lokal. Selama dua hari peserta digodok dengan sejumlah materi diantaranya: Konsepsi PNPM Mandiri Perdesaan, Konsepsi dan kebijakan Integrasi Perencanaan Pembangunan, Konsep Pemantauan dalam PNPM-MPd, Penanganan Pengaduan Masalah dalam PNPM-MPd, EWS (Early Warning System) Anti Korupsi PNPM-MPd dan beberapa sesi tanya jawab serta kerja kelompok.



Pelatihan Dasar RBM ditutup oleh Rahman selaku Ketua Panitia. Rahman berpesan kepada para peserta agar terus mendorong masyarakat  dalam memantau setiap kegiatan-kegiatan PNPM-MPd di Desa/Kelurahannya agar tercapai sebuah hasil yang maksimal  dan berkualitas sesuai dengan prinsip-prinsip PNPM-MPd.

Jumat, 11 November 2011

REPOST



SINERGITAS PROGRAM - PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT


Pelatihan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD)
Kec. Uluere Kab. Bantaeng

Program Pemberdayaan masyarakat di Indonesia sebagai upaya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat telah lama diperkenalkan seiring dengan terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, artinya telah enam dekade proses pemberdayaan masyarakat miskin dilakukan.
Berbagai macam program pemberdayaan diperkenalkan, baik yang didanai oleh pihak donor asing maupun murni pendanaannya berasal dari APBN. Berbagai metode dan pendekatan juga telah banyak diperkenalkan dalam kehidupan masyarakat miskin, mulai dari pendekatan menyuapi sampai pada pendekatan peningkatan kapasitas masyarakat miskin. Milyaran bahkan triliunan rupiah dana telah dikucurkan kepada masyarakat baik dalam bentuk pemberian modal usaha maupun untuk pembangunan insfrastruktur perdesaan. Pertanyaan yang sering menggelitik pemikiran kita adalah “ Apa yang sudah berubah dari masyarakat kita dengan banyaknya program–program pemberdayaan yang sudah diintrodusir dalam kehidupan mereka? Secara jujur harus kita akui bahwa belum banyak yang berubah dari kehidupan masyarakat miskin kita, Lalu apa yang salah dengan program–program pemberdayaan tersebut?
Kondisi real yang terjadi pada tingkat lapangan adalah hampir semua program pemberdayaan yang ada di masyarakat memiliki metode dan pendekatan yang sangat baik, namun pada sisi lain harus diakui, bahwa tidak semua penggiat program memliki kemampuan yang mumpuni untuk menerjemahkan pendekatan–pendekatan program tersebut secara baik dan benar sesuai dengan tuntutan masing–masing program. Fakta lain juga menggambarkan bahwa sebagian besar (untuk tidak menyebut seluruhnya) program–program pemberdayaan dalam implementasinya berjalan sendiri–sendiri, walaupun berada pada lokasi yang sama dengan lokasi program pemberdayaan lainnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan karena memberikan efek kebingungan pada mayarakat khususnya masyarakat miskin sebagai sasaran program. Dan efek kebingungan masyarakat ini pada akhirnya akan menggiring mereka pada sikap skeptis dan acuh tak acuh terhadap berbagai menu yang ditawarkan oleh program–program pemberdayaan.
Masing–masing program pemberdayaan memiliki visi dan tujuan untuk pengentasan kemiskinan, dengan berbagai rumusan strategi yang dipersiapkan secara baik dan matang dengan menetapkan masyarakat miskin sebagai sasaran utama sebagai penerima manfaat, tetapi kenapa outputnya belum begitu kelihatan dalam kehidupan masyarakat miskin, bahkan data menunjukkan, jumlah orang miskin semakin bertambah baik secara kuantitas maupun secara kualitas seiring semakin banyaknya program–program pengentasan kemiskinan (Pemberdayaan masyarakat) yang diperkenalkan dalam kehidupan mereka.
Sudah pasti tujuan masing–masing program pemberdayaan adalah berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan, artinya memang harus diakui bahwa satu program pemberdayaan hanya mampu memberikan sumbangan pada pengentasan kemiskinan dan sudah pasti tidak mampu mengentaskan kemiskinan secara menyeluruh. Dan jika masing–masing program pemberdayaan hanya mampu berkontribusi dalam upaya pengentasan kemiskinan, maka perlu ada rumusan strategi untuk mensinergikan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang diimplementasikan dalam satu wilayah kabupaten, kecamatan maupun desa. Sinergitas program–program pemberdayaan masyarakat ini adalah satu keharusan yang harus dilakukan kalau kita menginginkan tujuan pengentasan kemiskinan memiliki dampak yang cukup signifikan dalam merubah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin, baik diwilayah perdesaan maupun di wilayah perdesaan.
Sinergitas program–program pemberdayaan masyarakat ini dalam implementasiannya dapat diterapkan dalam berbagai tahapan kegiatan program, mulai dari perencanaan, pengimpelentasian dan pemeliharaan termasuk dalam monitoring dan evaluasi. Contoh konkritnya dapat digambarkan sebagai berikut: “PNPM Mandiri Perdesaan menfasilitasi masyarakat dalam melakukan perencanaan masyarakat desa, dari berbagai gagasan yang dirumuskan masyarakat dalam upaya menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi, hanya 3 usulan dari masing–masing desa yang dapat diajukan untuk didanai oleh PNPM Mandiri Perdesaan, artinya masih banyak usulan dan gagasan masyarakat yang tidak dapat diakomodir oleh PNPM Mandiri Perdesaan” seharusnya program pemberdayaan lainnya turut mengakomodir satu sampai dua usulan masyarakat yang sesuai dengan kriteria dan fokus program dan tidak perlu melakukan perencanaan ulang, keculai jika gagasan dan usulam masyarakat melalui PNPM Mandiri Perdesaan sama sekali tidak masuk dalam kriteria program bersangkutan.
Contoh lainnya adalah: PNPM Mandiri perdesaan memfasilitasi pengadaan sumur bor dan mempersiapkan institusi pengelola sumur bor tersebut dengan memberikan pelatihan penguatan kapasitas agar mereka dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Pada kasus ini harus diakui bahwa PNPM Mandiri Perdesaan bukan program yang fokus pada pengadaan fasilitas air bersih, sehingga dengan demikian penguatan kapasitas pada institusi pengelola air bersih ini kurang bisa maksimal, Seharusnya program pemberdayaan lain yang mengkhususkan diri pada pengadaan air bersih dan penguatan kapasitas institusi pengelolanya, juga menjadikan pengurus sumur bor yang dibentuk melalui PNPM Mandiri Perdesaan juga sebagai pemanfaatnya khususnya dalam penguatan kapasitas bagi institusi pengelolanya.
Pada tingkatan pemerintah daerah sudah saatnya untuk membentuk satu komisi Pemberdayaan masyarakat yang bergerak khusus dalam upaya membangun komunikasi dan kesepahaman antara berbagai program yang ada dalam kabupaten, sehingga dengan demikian, diharapkan keberdayaan dan kemandirian masyarakat dapat lebih maksimal pencapainnya. Tanpa adanya sinergitas program–program pemberdayaan, maka hasilnya juga tidak akan maksimal. Wallahu A;lam Bissowab.

Rabu, 09 November 2011

JAMBORE UPK PNPM-MP TINGKAT PROVINSI SULAWESI SELATAN


 Tanggal, 10 November 2011 PJOKab PNPM-MP Bantaeng yang diwakili oleh Indrawan mengadakan pertemuan persiapan Jambore UPK PNPM-MP Tingkat SulSel DI CCC Tanjung Bunga Makassar pada tanggal 15 November 2011. Dalam pertemuan hari ini delegasi Kab. Bantaeng mempersiapkan bahan-bahan yang akan dipamerkan di Stand PNPM-MP Kab. Bantaeng, diantaranya bentuk Stand pameran, baliho, akomodasi dan transportasi delegasi Kab. Bantaeng.

Dalam pertemuan ini dihadiri sejumlah pengurus UPK dan Faskab PNPM-MP Ruslan Daud Mendogu. Adapun yang akan dipamerkan dalam Jambore tahun ini berupa penganan/kuliner khas Bantaeng, foto-foto kegiatan PNPM dan kerajinan tangan khas Bantaeng yang berada di bawah naungan PNPM-MP.

Menurut Ruslan Daud Mendogu, mulai tahun ini Jambore PNPM-MP dijadikan agenda tahunan sebagai ajang silaturahmi bagi para pegiat dan pelaku PNPM-MP se-Sulawesi Selatan.
PJOKab PNPM-MP Kab. Bantaeng Harmoni,S.Sos,M.Si mengatakan Jambore tahun ini masih tanda tanya karena pihak pelaksana di Provinsi belum bersurat secara resmi ke Kabupaten-Kabupaten. Walaupun begitu Ibu Harmoni berpesan agar ajang Jambore yang akan dilaksanakan ini dijadikan tolok ukur keberhasilan program PNPM-MP di Kab. Bantaeng, lebih lanjut Ibu Harmoni mengatakan peran UPK sebagai ujung tombak PNPM-MP, mampu memperlihatkan serta membuktikan eksistensi mereka dalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat terkait fisik maupun pembinaan kelompok selama PNPM-MP berjalan di Kab. Bantaeng. Selain itu Ibu Harmoni berharap agar para delegasi menjadikan Jambore ini sebagai ajang pembelajaran, melihat dan belajar dari prestasi daerah lain dan mengaplikasikan di wilayah masing-masing